Gedung Sate Bandung, Ikon Kota Dua Budaya dalam Arsitektur

gedung sate bandung ikon kota dua budaya dalam arsitektur

Gedung Sate Bandung, Ikon Kota Dua Budaya dalam Arsitektur

Gedung sate Bandung adalah salah satu ikon ternama dari kota Bandung. Lokasinya yang terbilang berada di tengah kota dan fungsinya sebagai gudeng DPRD membuatnya semakin identik sebagai bagian terpenting dari kota Bandung.

Tahukah Anda kalau bangunan ini merupakan salah satu awal perkawinan budaya Indonesia dengan budaya Eropa dalam arsitektur? Meski bangunan yang dibangun pada tahun 1920 ini merupakan karya seorang arsitek asal Belanda, namun sang arsitek Ir J Gieber sangat intensif memasukan unsur budaya lokal nusantara dalam keseluruhan bangunan.

Beliau memang dikenal sebagai salah seorang arsitek Belanda yang memiliki minat yang tinggi dengan budaya arsitek lokal Indonesia. Beberapa kali beliau membuat penulisan mengenai bangunan lokal seperti keraton dan rumah-rumah lokal penduduk.

Dari ide inilah beliau memadukan gaya arsitektural neo renaissance cikal bakal gaya art deco klasik yang memang sedang mulai trend di tahun 20an dengan beberapa sentuhan nilai arsitek lokal. Salah satu yang paling mencolok adalah bentuk atap berundak yang mirip dengan pura pada bangunan tengah. Juga atap dari bangunan sisi depan yang mirip dengan bangunan khas adat Sunda, sejenis bangunan model limas.

Kemudian salah satu cirikhasnya yang menjadi tanda bangunan gedung sate Bandung ini hingga kini sebuah tiang di atas menara tengah dengan bentuk kasad tusuk sate dengan 6 buah ornament sate. Angka 6 di sini sebagai tanda bahwa biaya untuk pembangunan seluruh gedung sate Bandung ini mencapai 6 juta gulden.

Untuk memperkaya unsur perpaduan ini, pihak pemborong bangunan yang juga berasal dari Belanda, VL Slors memilih tenaga pemahat dan pengukir dari kelompok komunitas etnis Cina di kota Bandung. Mereka memiliki pengalaman dalam membuat pahatan dan ukiran bernafaskan budaya Sunda dengan budaya Tionghoa.

Bahkan dari keseluruhan desain, Anda bisa melihat sentuhan inspirasi bangunan candi Borobudur. Belum lagi sentuhan gaya moor mediterania pada sisi jendela sebagai bagian dari sentuhan islami dalam bangunan juga melengkapi tampilan kasad bangunan yang hingga kini masih megah berdiri ini.

Ini karena bangunan yang menghadap ke gunung tangkuban perahu ini menggunakan bahan baku batu khusus yang didatangkan dari gunung Manglayang. Gedung yang dulu bernama Gouvernements Bedrijven ini juga sudah mengenal teknik pembangunan modern.

Bangunan ini sempat mengalami pengembanga di masa kemerdekaan dengan pembangunan gedung penyangga pada tahun 1977 dengan arsitek Ir Sudibyo dengan tetap mengusung tema arsitektur yang sama. Bangunan penyangga ini semakin menyempurnakan pesona bangunan klasik kebanggaan Jawa Barat ini.

(sumber gambar : en.wikipedia.org)

Leave a Comment

Gedung Sate Bandung, Ikon Kota Dua Budaya dalam Arsitektur

Artikel Populer yang Wajib Anda Baca !!close