Ngayah, Adat Istiadat Bali di Kaki Gunung Agung

ngayah adat istiadat bali di kaki gunung agung

Ngayah, Adat Istiadat Bali di Kaki Gunung Agung

Pura Besakih adalah sebuah pura Hindu yang berdiri di lokasi paling tinggi di tanah Bali, tepat di bawah kaki puncak tertinggi di Bali, Gunung Agung.

Pura ini diperuntukan sebagai penjagaan secara tradisi keberadaan gunung Agung yang dianggap sebagai rumah para dewa di dalam adat istiadat Bali Hindu.

Bagi masyarakat Hindu Bali, Gunung Agung merupakan tempat berdiam para dewa. Sehingga diperlakukan dengan sangat sakral, termasuk dengan diselenggarakan beragam upacara dan adat istiadat di Pura Besakih.

Ragam upacara yang diselenggarakan ini adalah perwujudan doa dan harapan masyarakat Hindu Bali untuk selalu dilimpahi keselamatan, kesejahteraan, ketenangan, kedamaian dan tentu saja dijauhkan dari mara bahaya termasuk dari amukan gunung Agung yang sebenarnya hingga kini masih tergolong gunung berapi aktif.

Salah satu adat istiadat Bali yang selalu rutin diselenggarakan di Pura Besakih adalah upacara Ngayah. Upacara ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian acara Panca Bali Krama. Ngayah adalah titik awal dari rangkaian upacara Panca Bali Krama yang biasanya berlangsung pada 10 tahun sekali setiap akhir tahun Saka dengan akhiran nol. Itu sebabnya upacara ini sangat istimewa dan diselenggarakan besar-besaran.

Upacara ini merupakan salah satu upacara yang penting karena menjadi salah satu tonggak penting dalam adat istiadat Bali untuk menghormati puncak Gunung Agung. Di sini masyakarat berkumpul untuk membersihkan kompleks pura dengan tujuan akhir sebenarnya adalah membersihkan diri  dari raga buruk dalam diri manusia.

Upacara berlangsung beberapa hari, dimulai dengan upacara ngayah, upacara ini adalah upacara bebersih kawasan Pura Besakih. Di sini bebersih memiliki dua makna, yaitu bebersih dalam makna sebenarnya dan bebersih secara makan spiritual. Dalam makna spiritual, upacara akan diselenggarakan oleh para istri brahmana yang bertugas menjalankan pembersihan dengan doa, air suci dan dupa yang semuanya sudah mendapatkan pemantraan.

Upacara ini akan melibatkan banyak orang karena terkait di butuhkannya banyak tenaga pembersih atau pengayah untuk membersihkan Besakih secara fisik atau kerja bakti. Sedang para brahmana penunggu Pura Besakih akan menjalankan pembersihan secara spiritual. Menyiapkan segala peralatan upacara dan sesajen dan memberkati setiap pengayah yang datang. Upacara ngayah sendiri bisa berlangsung beberapa hari untuk bisa menampung permintaan pemberkatan dari seluruh penjuru.

Diluar upacara pembersihan pura dan pembersihan pengayah dari bala buruk dan raga buruk. Upacara ini juga diiringi dengan beragam kegiatan sosial. Kegiatan sosial ini adalah bentuk pernyataan permohonan pembersihan diri dari umat Hindu. Bisa dengan mengadakan donor darah, pengobatan gratis, pembagian sembako dan sebagainya.  Itulah salah satu adat istiadat bali yang terakhir diselenggarakan pada akhir tahun Saka 1930 atau pada februari 2009 lalu.

(sumber gambar : tintaemasperkasa.com)

Leave a Comment

Ngayah, Adat Istiadat Bali di Kaki Gunung Agung

Artikel Populer yang Wajib Anda Baca !!close